Home / Daerah / Kalteng / Karhutla / Kebakaran / Peristiwa

Jumat, 18 September 2026 - 16:11 WIB

Dilanda Kabut Asap! Pelajar di Sampit Terganggu dan Tukang Kelotok Pendapatan Anjlok

Kondisi ini mulai mengganggu aktivitas, kesehatan, hingga dunia pendidikan warga, Jumat (18/9).

SAMPIT, Kabarkalteng.net – Asap tebal mulai menyelimuti Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) akibat kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang kian meluas. Kondisi ini mulai mengganggu aktivitas, kesehatan, hingga dunia pendidikan warga, Jumat (18/9/2026).

Salah satu aktivitas warga yang paling terdampak adalah jasa penyeberangan perahu atau kelotok di Sungai Mentaya Sampit. Jarak pandang yang terbatas membuat para juragan kelotok tak berani beroperasi maksimal.

Pemilik perahu kelotok, Surianto, mengeluhkan kondisi tersebut. Menurutnya, kabut asap akibat karhutla sangat mengganggu aktivitas sehari-hari sebagai penyedia jasa penyeberangan.

“Gara-gara adanya kebakaran hutan dan lahan, sehingga mengakibatkan kabut asap, ini sangat mengganggu aktivitas kita sehari-hari sebagai jasa penyeberangan menggunakan kelotok. Saat kabut asap masih tebal, saya tidak berani menyeberang membawa penumpang, karena berbahaya,” kata Surianto.

Ia menambahkan, kabut asap juga menghambat para pelajar yang hendak menyeberang untuk sekolah. Selain itu, aktivitas kapal-kapal besar di tengah Sungai Mentaya juga terganggu akibat jarak pandang yang pendek.

“Kita lebih berhati-hatilah. Ini juga berpengaruh kepada penghasilan yang didapat. Pendapatan menurun dari hari-hari biasa, karena warga lebih mengurangi aktivitas. Karena biasanya warga ramai berbelanja ke pasar, akhirnya akibat kabut asap warga jadi berkurang untuk menyeberang,” tambahnya.

Keluhan serupa disampaikan oleh Ahmad Yanor, seorang pelajar SMAN 2 Sampit yang juga merupakan penumpang kelotok. Ia mengatakan kabut asap sangat mengganggu dunia pendidikan dan kesehatan.

“Adanya kabut asap ini sangatlah terganggu, sehingga jam sekolah juga ikut terganggu. Bagi masyarakat yang melakukan aktivitas juga dikurangi, karena mengganggu kesehatan, dampaknya pada mata dan pernapasan,” ucap Yanor.

Yanor juga mengaku khawatir saat menyeberang dalam kondisi asap tebal, karena sangat berbahaya dan berpotensi menyebabkan kecelakaan antar perahu di sungai.

Hingga berita ini diturunkan, kabut asap masih menyelimuti sejumlah wilayah di Kota Sampit dan warga berharap adanya penanganan cepat dan terus melakukan penanganan dari pemerintah terkait kebakaran hutan dan lahan tersebut. (Fauji)

Ditulis oleh Editor Redaksi

Kabar Kalteng : Berita Terpercaya dan Akurat.

Share :

Baca Juga

Daerah

Nahas! Pria 50 Tahun Ikut Terjun Cari Alat Tambang Tradisional di Sungai Katingan

Kalteng

Rumkit Bhayangkara Gelar Pengambilan Sumpah, Komitmen Jaga Kerahasiaan Medis

Kebakaran

Rumah Kosong Terbakar di Galaxi III Palangka Raya, Pemilik Belum Diketahui

Peristiwa

Helikopter Dauphin HR-3601 Evakuasi Satu Korban Selamat KM Virgo Transport 8

Daerah

Gubernur Kalsel Kumpulkan Bupati se-Banua Anam Plus Batola, Bahas Penanganan Karhutla dan Pembangunan

Tinggalkan Komentar