SAMPIT, Kabarkalteng.net – Kilau aksesoris khas Kalimantan yang dahulu menjadi kebanggaan masyarakat lokal kini mulai meredup di Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur. Menurunnya minat masyarakat terhadap produk budaya daerah itu dirasakan langsung oleh para pedagang yang masih bertahan di kawasan pertokoan Nhutani Taman Kota Sampit.
Salah satunya adalah Dhani (54), pedagang aksesoris khas Kalimantan yang telah menggeluti usaha tersebut selama puluhan tahun. Di tengah gempuran produk modern dan tren fesyen yang terus berubah, ia menyaksikan sendiri semakin berkurangnya pembeli yang mencari pakaian maupun aksesoris berciri khas budaya Kalimantan.
“Sudah puluhan tahun saya berjualan aksesoris Kalimantan di Kota Sampit. Dari waktu ke waktu, peminatnya memang terlihat terus menurun,” ujar Dhani pada awal media Kabarkalteng.net, Sabtu (15/8/2026).
Bagi Dhani, usaha yang dijalankannya bukan sekadar aktivitas ekonomi. Tokonya menjadi ruang kecil untuk menjaga eksistensi karya para pengrajin lokal sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya Kalimantan kepada masyarakat, khususnya generasi muda.
Selain menyediakan berbagai aksesoris tradisional, ia juga melayani jasa menggosok batu, membuat gelang berbahan kayu dengan beragam motif, hingga merangkai gelang khas Kalimantan yang dikenal dengan nama Lamiyang.
Lamiyang merupakan gelang tradisional khas Kalimantan Tengah yang memiliki nilai budaya, filosofi, dan identitas tersendiri bagi masyarakat Dayak. Bagi sebagian kalangan, gelang tersebut bukan hanya pelengkap penampilan, tetapi juga simbol yang sarat makna.
Meski penjualan terus mengalami penurunan, Dhani memilih tetap bertahan. Ia berharap pemerintah, pelaku budaya, dan masyarakat dapat bersama-sama mendorong pelestarian kerajinan khas Kalimantan agar tidak tergerus perkembangan zaman.
“Kita ingin generasi muda juga mengenal dan bangga memakai produk lokal. Ini adalah identitas kita sebagai orang Kalimantan,” tuturnya.
Keberadaan pedagang seperti Dhani di pertokoan Nhutani Taman Kota Sampit menjadi pengingat bahwa pelestarian budaya tidak hanya dilakukan melalui festival atau pertunjukan seni, tetapi juga dengan menjaga keberlangsungan para perajin dan pelaku usaha yang selama ini setia merawat warisan budaya melalui produk-produk kerajinan lokal. (Fauji)





