Home / Daerah / Kalteng / Karhutla / Nasional / Pemerintahan / Peristiwa

Jumat, 11 September 2026 - 22:31 WIB

Karhutla di Kalteng, Wakapolri Pastikan Negara Hadir untuk Masyarakat

Kehadiran langsung Wakapolri di tengah personel menjadi pesan bahwa penanganan karhutla merupakan prioritas.

Kehadiran langsung Wakapolri di tengah personel menjadi pesan bahwa penanganan karhutla merupakan prioritas.

PALANGKA RAYA, Kabarkalteng.net – Wakil Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Wakapolri) Komjen Pol. Prof. Dr. Dedi Prasetyo turun langsung ke Posko Induk Penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) Polda Kalimantan Tengah, Palangka Raya, Jumat (11/9/2026). Kehadiran tersebut menegaskan keseriusan Polri dalam memastikan penanganan karhutla berjalan maksimal sekaligus memastikan masyarakat mendapat perlindungan di tengah kondisi kebakaran dan kualitas udara yang memburuk.

Didampingi Kalemdiklat Polri Komjen Pol. Drs. R.Z. Panca P. Simanjuntak, Wakapolri mengecek langsung kesiapan personel, sarana-prasarana, strategi penanganan, hingga dukungan para perwira peserta didik yang diterjunkan ke wilayah terdampak.

Kehadiran Wakapolri di posko bukan sekadar pemeriksaan kesiapan, tetapi memastikan seluruh kekuatan yang telah digelar benar-benar bekerja menjawab kebutuhan di lapangan. Mulai dari pemadaman, pencegahan meluasnya api, edukasi masyarakat, hingga mitigasi agar kebakaran tidak terus berulang.

Di Kalimantan Tengah, Satgas Pemburu Api Polda Kalteng diperkuat 354 personel. Kekuatan tersebut terdiri dari 150 personel Brimob, 149 personel Samapta, serta 55 personel dari 11 subsatgas yang melibatkan fungsi Polairud, SDM, Reskrim, Reskrimsus, Narkoba, Pamobvit, Intelkam, Lantas, Propam, Binmas dan SPN.

Selain itu, terdapat 158 personel Satgas Edukasi Karhutla BKO Lemdiklat Polri yang memperkuat pendekatan pencegahan dan edukasi kepada masyarakat.

Wakapolri juga mengecek langsung keberadaan 59 peserta didik Polri (Serdik) di Kalimantan Tengah, yang terdiri atas 40 peserta Sespimmen, 12 peserta Sespimti, dan 7 peserta SPPK. Para Serdik menjalankan peran strategis melalui edukasi dan penyuluhan, pendampingan masyarakat, serta memberikan masukan mengenai pola penanganan berdasarkan kondisi nyata di lapangan.

Penguatan pencegahan juga dilakukan melalui kelompok penugasan peserta didik lainnya. Sebanyak 322 personel, terdiri dari 64 peserta Sespimti, 207 peserta Sespimmen, 29 peserta SPPK dan 22 pendamping, ditugaskan dalam penguatan edukasi, penyuluhan dan pencegahan karhutla di enam Polda prioritas. (Tribrata News⁠)

Kelompok 322 personel tersebut merupakan kelompok penugasan yang berbeda dengan 198 personel peserta didik yang sebelumnya melaksanakan penugasan dalam penguatan penanganan karhutla. Keduanya merupakan kelompok penugasan tersendiri dan tidak diposisikan sebagai satu kekuatan atau satu rangkaian angka.

Besarnya kekuatan yang dikerahkan sejalan dengan situasi karhutla yang membutuhkan penanganan serius. Data terbaru mencatat 107.309 titik hotspot, 2.819 firespot, dan 9.228,04 hektare lahan terbakar. Konsentrasi kebakaran tertinggi berada di Kotawaringin Timur.

Dampak karhutla juga terasa pada kualitas udara. Di Palangka Raya, Air Quality Index (AQI) mencapai 3.242 dengan status “Sangat Berbahaya”. Kondisi tersebut mempertegas bahwa karhutla bukan semata persoalan lingkungan, tetapi telah menyentuh aspek keselamatan, kesehatan, aktivitas sosial dan perlindungan masyarakat.

Situasi semakin menantang karena fenomena El Nino sangat kuat pada Agustus–September 2026, dengan kondisi kekeringan mendekati ekstrem. Pada lahan gambut, kondisi tersebut membuat api lebih sulit dikendalikan karena kebakaran dapat menjalar di bawah permukaan.

Wakapolri menekankan bahwa kebakaran gambut tidak dapat diselesaikan hanya dengan mengandalkan pemadaman dari udara maupun kekuatan darat. Penanganan harus dilakukan secara terpadu melalui pemadaman, pencegahan, mitigasi dan pengendalian kondisi lingkungan.

Salah satu fokusnya adalah menjaga ketinggian muka air gambut. Kondisi ideal berada di sekitar 40 sentimeter, sementara di sejumlah wilayah Kalteng muka air telah berada sekitar 120 sentimeter, sehingga diperlukan intervensi untuk mengembalikan kelembapan gambut.

Karena itu, Polri bersama TNI, pemerintah daerah, Manggala Agni dan masyarakat melakukan berbagai langkah mitigasi, antara lain penyekatan kanal, pengisian air, pembangunan sumur bor, embung serta pembukaan akses menuju lokasi rawan kebakaran.

Saat ini tercatat 220 sumur bor dan 104 embung air telah disiapkan sebagai bagian dari upaya memperkuat pencegahan dan mempercepat penanganan di wilayah rawan.

“Usaha maksimal wajib dilaksanakan. Karena ini merupakan tanggung jawab bersama,” tegas Wakapolri.

Kehadiran langsung Wakapolri di tengah personel menjadi pesan bahwa penanganan karhutla merupakan prioritas. Seluruh kekuatan Polri diminta bekerja bersama seluruh pemangku kepentingan agar api dapat dikendalikan, masyarakat terlindungi, dan ancaman kabut asap tidak meluas.

“Ini merupakan kolaborasi dari kolaborasi policing yang kita laksanakan. Ya, semoga cepatlah tertangani,” ujar Wakapolri. (Fauji/R)

Ditulis oleh Editor Redaksi

Kabar Kalteng : Berita Terpercaya dan Akurat.

Share :

Baca Juga

Daerah

Lapas Sampit Resmi Tanda Tangani Perjanjian Kinerja 2026, Perkuat Akuntabilitas dan Operasional

Peristiwa

Peduli untuk Relawan, Polairud Polresta Banjarmasin Beri Santunan Korban Tenggelam

Peristiwa

Penyelam Basarnas Temukan Satu Korban KM Virgo Transport 8 di Dalam Kapal

Kalteng

Optimalkan Pemadaman Karhutla di Palangka Raya dengan Cairan X-Fire

Daerah

Menteri Kehutanan RI bersama BNPB Gelar Rakor Penanganan Karhutla Operasi Darat dan Udara di Kapuas

Tinggalkan Komentar