Dalam forum tersebut, Yanto Eko Saputra terpilih sebagai Koordinator Forum Kebangsaan Kalimantan Tengah. Terpilihnya Yanto Eko menjadi bagian penting dari perjalanan forum yang selama kurang lebih empat tahun tumbuh dan bergerak dari akar rumput.
PALANGKA RAYA, Kabarkalteng.net – Di tengah kemajemukan masyarakat Kalimantan Tengah (Kalteng), persatuan bukan sekadar slogan. Ia menjadi modal sosial yang perlu terus dirawat melalui komunikasi, dialog, dan kebersamaan antarelemen masyarakat.
Semangat itulah yang mengemuka dalam Musyawarah Besar (Mubes) pertama Forum Kebangsaan Ormas, Paguyuban, dan Kerukunan Kalimantan Tengah yang digelar di Ballroom Aurila Hotel, Palangka Raya, Minggu (6/9/2026).
Mubes perdana itu tidak hanya menjadi momentum pergantian kepemimpinan, tetapi juga ruang konsolidasi untuk mengevaluasi perjalanan forum sekaligus merumuskan arah gerakan ke depan.
Ketua Relawan Kemanusiaan Habar Kalimantan Tengah (HKT), Dwi Sugiarto, yang turut hadir dalam kegiatan tersebut, menyampaikan ucapan selamat atas terpilihnya Yanto Eko Saputra.
“Selamat dan sukses atas terpilihnya Bapak Yanto Eko Saputra sebagai Koordinator Forum Kebangsaan Kalimantan Tengah. Semoga amanah dalam menjalankan tugas serta mampu memperkuat persatuan dan kebersamaan seluruh elemen masyarakat di Kalimantan Tengah,” ujar Sugie, sapaan akrab Dwi Sugiarto.
Pembina Forum Kebangsaan Kalteng, Brigjen Pol (Purn) Andreas Wayan Wisaksono, mengatakan forum tersebut lahir dari kebutuhan untuk membangun komunikasi yang lebih kuat di tengah beragamnya organisasi kemasyarakatan, paguyuban, dan kerukunan yang hidup di Kalimantan Tengah.
Menurut Andreas, komunikasi lintas kelompok merupakan salah satu kunci untuk menjaga situasi daerah tetap kondusif. Forum diharapkan menjadi ruang bersama untuk memperkuat koordinasi sekaligus mengantisipasi potensi gesekan antarelemen masyarakat.
“Forum Kebangsaan ini terbentuk dari kesepakatan bersama akibat rasa ketakutan saya akan potensi gesekan antarormas di Kalteng. Kita punya catatan sejarah kelam terkait kerusuhan masa lalu yang merugikan semua pihak. Kita tidak ingin hal itu terulang kembali,” ujar Andreas saat membuka Mubes.
Baginya, pengalaman masa lalu harus ditempatkan sebagai pelajaran bersama. Keberagaman, menurut dia, tidak semestinya menjadi alasan untuk terpecah, melainkan kekuatan sosial yang dapat menjadi fondasi dalam membangun Kalimantan Tengah yang aman, damai, dan inklusif.
Dalam konteks itu, filosofi Huma Betang dan kearifan lokal masyarakat Dayak dinilai memiliki relevansi kuat sebagai pijakan kehidupan sosial. Nilai kebersamaan dalam perbedaan menjadi pesan penting yang hendak terus dihidupkan melalui forum tersebut.
Andreas menjelaskan, Forum Kebangsaan Kalteng dikembangkan dengan pendekatan bottom-up, yakni tumbuh dari akar rumput dan dibangun berdasarkan kesadaran bersama.
Konsep itu juga menjadi dasar dalam pola kepemimpinan forum. Koordinator tidak ditempatkan sebagai figur yang berada di atas para ketua organisasi, melainkan sebagai penghubung yang memperkuat komunikasi dan menjembatani kepentingan bersama.
“Kita tumbuh secara mandiri dari akar rumput agar menjadi pohon yang kuat dan rindang untuk tempat berteduh semua golongan. Di forum ini, posisi kepemimpinan bersifat sebagai koordinator untuk menjembatani para ketua ormas dan paguyuban, bukan sebagai ketua di atas ketua,” jelasnya.
Karena itu, Mubes perdana sekaligus menjadi momentum memperkuat fondasi kelembagaan. Selain memilih koordinator, peserta membahas evaluasi program kerja, arah kepemimpinan, serta penyusunan Peraturan Forum sebagai pedoman bersama.
Andreas berharap koordinator terpilih segera membentuk tim formatur dan mengonsolidasikan rapat kerja. Dengan demikian, Mubes tidak berhenti sebagai agenda seremonial, tetapi dilanjutkan dengan program konkret yang dapat memberikan kontribusi terhadap kondusivitas, keamanan, dan ketertiban masyarakat di Kalimantan Tengah.
Ketua Panitia Mubes, Tomu Sibarani, mengungkapkan persiapan kegiatan dilakukan dalam waktu relatif singkat. Panitia mulai bekerja setelah menerima Surat Keputusan (SK) Pembentukan Panitia dari Pembina Forum pada 25 Agustus 2026.
“Panitia bekerja dengan cepat, tepat, dan berkoordinasi lintas unsur, mulai dari pemerintah, tokoh masyarakat, hingga akademisi,” kata Tomu saat menyampaikan laporan kegiatan.
Berdasarkan data panitia, sebanyak 104 organisasi kemasyarakatan, paguyuban, dan kerukunan terdaftar dan memiliki hak suara dalam Mubes pertama tersebut.
Tomu menegaskan, seluruh proses penyelenggaraan Mubes dibangun dengan semangat gotong royong, dari anggota dan untuk kepentingan seluruh anggota forum.
Mengusung slogan “Bersatu, Damai, dan Berkah”, Mubes diharapkan menjadi titik tolak bagi semakin kuatnya sinergi antarkelompok masyarakat dalam mendukung pembangunan Kalimantan Tengah.
“Ormas dan paguyuban merupakan mitra kritis bagi pemerintah daerah. Ke depan, kami berharap setiap keputusan dan perumusan kebijakan di dalam forum dapat dibina secara akademis, memiliki narasi teknokratis, serta berlandaskan brainstorming yang matang,” ujarnya.
Mubes perdana tersebut turut dihadiri jajaran Kodim, tokoh masyarakat, para sesepuh daerah, serta perwakilan organisasi kemasyarakatan, paguyuban, dan kerukunan dari berbagai wilayah di Kalimantan Tengah.
Salah satu tokoh yang hadir ialah Yansen Binti, yang turut dikenal dalam berbagai upaya membangun dan menjaga keberagaman masyarakat di Kalimantan Tengah.
Kehadiran berbagai unsur tersebut memperlihatkan bahwa Forum Kebangsaan tidak semata berbicara mengenai struktur organisasi. Lebih jauh, forum ini diharapkan menjadi ruang dialog bagi berbagai kelompok untuk menyampaikan gagasan, membangun komunikasi, dan mencari titik temu di tengah kemajemukan.
Terpilihnya Yanto Eko pun membawa babak baru bagi forum yang telah tumbuh selama sekitar empat tahun tersebut. Tantangannya bukan hanya menjalankan roda organisasi, tetapi memastikan forum tetap menjadi ruang bersama yang terbuka bagi berbagai elemen masyarakat.
Pada akhirnya, Mubes pertama Forum Kebangsaan Kalteng diharapkan menjadi pijakan baru untuk memperkuat komunikasi, memperluas kolaborasi, dan menjaga kohesi sosial antarelemen masyarakat.
Sebab, bagi Kalimantan Tengah yang tumbuh di atas keberagaman, merawat persatuan bukan sekadar pilihan. Ia merupakan tanggung jawab bersama agar nilai-nilai kebersamaan yang tercermin dalam filosofi Huma Betang tetap hidup dan menjadi kekuatan dalam membangun Bumi Tambun Bungai. (Fauji/Bck)





